Assalamu'alaikum....Selamat Datang di MATAHARI DUNIA GUNUNGSARI....Blog anak Desa Gunungsari Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro BOJONEGORO DEVELOPMENT COMMITTEE (BOJODEC) adalah Organisasi Yang Bergerak Dalam Bidang Sosial Kemanusian. Bergabunglah Bersama Kami Untuk Bojonegoro Sejahtera Lahir dan Bathin

Rabu, 24 April 2013

Pencegahan, Pengendalian Penyakit Dalam Simpanan



Pencegahan dan pengendalian penyakit dalam simpanan sangat tergantung macam penyakit dan keadaan lingkungan. Usaha-usaha yang efektif ialah :
a.       Mengetahui kehadiran (adanya) pada biji sebelum ditanam
Untuk maksud ini perlu pengujian kesehatan biji. Jika terbukti terdapat patogen dalam jumlah yang cukup besar, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah mencegah penanaman dan diadakan perlakuan biji. Tujuan perlakuan biji ialah untuk mencagah terjadinya infeksipada bibit pada tanaman dewasa. Dengan
perlakuan ini maka inokulum yang berada dipermukaan atau di dalam biji dapat mati secara langsung. Bagi biji yang sudah terinfksi, maka perlakuan biji bersifat kuratif, selain juga dapat melindungi benih terhadap patogen yang berada dalam tanah. Dalam kondisi umum yang dimaksud perlakuan biji selalu dihubungkan dengan pemakaian zat-zat kimia, tetapi ini adalah sesuatu hal yang salah. Perlakuan-perlakuan biji selain pemakaian dengan perlakuan panas, sinar ultra violet, infra merah dan sebagainya. Karena pemakaian zat kimia mempunyai segi yang mnguntungakan dari pada cara ynag lain, maka cara ini banyak dipakai orang. Menurut kegunaannya, perlakuan biji pada dasarnya ialah
1.      Desinfestan, menginaktifkan/ mematikan jasad yang ada dipermukaan biji
2.      Desinfektan, efektif terhadap jasad-jasad hidup pada bagian biji yang lebih dalam, dan
3.      Protektan, yang melindungi biji dari serangan jasad hidup yang berada dalam tanah
Secara praktis semua bahan untuk perlakuan biji adalah desinfestan, tetapi ada beberapa yang desinfektan dan protektan. Tetapi formal dehida dapat berfungsi sebagai desinfestan maupun desinfektan, tetapi tidak bersifat protektan
b.      Mengukur kandungan air bahan dan suhu secara teratur serta mengambil contoh secara berkala untuk mengevaluasi kondisi dan daya simpan
Kandungan air bahan yang seimbang dengan lengas nisbi udara 65 persen atau kurang, pada suhu rendah dapat mencegah serangan jamur simpanan. Menurut Hall (1970) kerusakan akibat jamur simpanan dan bakteri dapat dicegah dengan cara menyimpan bahan dengan kandungan air rendah atau kandungan air yang seimbang dengan lengas nisbi udara kurang dari 65 persen untukm daerah tropis. Suhu dan lengas nisbi yang dapat menghambat perkembangbiakan beberapa jasad hidup di gudang pemyimpanan.
c.       Aerasi
Aerasi gudang mampu menurunkan dan menyeragamkan suhu, sehingga dapat menurunkan proses-proses biologis di dalam gudang. Keseragaman suhu akan mencegah perpindahan air di antara butiran biji-bijian yang disimpan.
d.      Fumigasi dan sanitasi
Sanitasi khususnya pada tempat penyimpanan biji. Sehingga sebagai contoh penggunaan khloropirikin atau gas formaldehida sebagai fumigan selama 24 jam dalam gudang penyimpanan.
e.       Pemberian bahan kimia atau fungisida
Pemberian fungsida biaanya dipakai untuk mencegah atau mematikan patogen-patogen dalam simpanan. Sedang pemberian bahan pengawet seperti halnya luprosil pada beras dapat menghambatpenyusutan beras, pertumbuhan jamur, mempertahankan warna beras, rasa, warna dan bau nasi terutama pada konsentrasi 0,6 persen (Syamsidi, 1989).
f.       Cara lain untuk menghindari penyakit di dalam simpanan
Dengan mencegah adanya infeksi dalam pertanaman. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan memelihara tanaman yang sehat atau mengadakan pertanaman di daerah dimana keadaan lingkungannya tidak memungkinkan pertumbuhan patogen.
g.      Lama penyimpanan
Mengenai kemungkinan bahwa patogen mempunyai jangka waktu tertentu bertahan dalam biji, maka hal ini dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengurangi banyaknya inokulum yang terdapat pada biji. Sebagai contoh :
-          Jamur
o   Fusarium moniliforme       (jagung)           bertahan          8 tahun
o   Ustilago nuda                    (barley)            bertahan          11 tahun
-          Bakteri
o   Xanthomonas oryzae        (padi)               bertahan          2,5 tahun
o   Baketri yang menyerang kedelai               bertahan          0,5 tahun
-          Virus
o   Tobacco Ring spot            (tembakau)      bertahan          5 tahun
o   Bean Common Mosaik     (kedelai)          bertahan          2 tahun
Dengan adanya batas umur patogen, pencgahan penyakit biji dapat dilakukan dengan mengatur waktu penyimpanan, tetapi untuk ini perlu diperhatikan penurunan mutu dari biji tersebut.
h.      Karantina
Suatu cara untuk mencegah agar patogen atau bahan yang terinfeksi tidak dapat masuk ke daerah dimana patogen tersebut terdapat. Dalam praktek, cara bekerjanya karantina adalah pemilihan biji harus selektif, karena tidak mungkin untuk memeriksa semua bahan atau biji yang didatangkan dari luar negeri atau daerah lain. Bila akan mengimpor biji sebaiknya berasal dari daerah yang diketahui bebas patogen. Harus diingat bahwa suatu patogen mungkin tidak berarti di suatu daerah, tetapi dapat meluas dan merusak di daerah lain, dimana keadaan iklim dan cara bercocok tanamnya lebih menguntungkan bagi patogen ataupun disebabkan karena variasi tanaman didaerah itulebih peka terhadap serangan patogen tersebut.
Sumber :
 Rasminah, Siti. 1997. Penyakit dalam Simpanan (Penyakit Gudang). FP-UB. Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar